Total

Selasa, 12 Agustus 2014

WATU KLOSOT - Wisata Bernuansa Religius di Lumajang





Saatnya adventure ke wisata Watu Klosot yang bertempat di dusun Tawon Songo Pasrujambe. Nah, inilah pos wisata  yang sarat dengan nuansa religius. Watu Klosot namanya. 
Watu Klosot merupakan kawasan wisata yang memiliki mata air yang oleh umat tertentu dianggap suci. Mata air itu keluar dari celah bebatuan yang dialirkan melalui sebatang bambu dan memancar jatuh ke bawah, ke balik semak-semak belukar. Air ini suci dalam arti bisa diminum secara langsung baik dengan menampungnya melalui cangkir maupun dengan menengadahkan mulut dan meminumya dari saluran bambu.




Watu Klosot masuk ke wilayah Desa Pasru Jambe. Pasrujambe merupakan salah satu dari 21 Kecamatan yang ada di Kabupaten Lumajang. Luas Kecamatan Pasrujambe adalah 97,30 Km2 dengan jumlah penduduk sebesar 37.724 jiwa yang tersebar pada 7 Desa. Penggunaan lahan di Kecamatan Pasrujambe dapat dibedakan menjadi 2 yaitu lahan sawah dan lahan non sawah. Prosentase lahan sawah mencakup sebagian besar wilayah Kecamatan Pasrujambe yaitu sebesar 75 % dari luas Kecamatan Pasrujambe.


Watu Klosot sendiri hanya berjarak kurang lebih 8 km dari pasar pasrujambe.


Keunikan tempat ini salah satunya adalah deretan batu-batu besar yang merupakan sisa-sisa banjir Gunung Semeru. Batu-batu itu membujur dengan indahnya membentuk berbagai tiruan benda-benda yang kita kenal sehari-hari. Ada salah satu batu yang saking besarnya dan bentuknya menyerupai perahu sehingga dinamakan batu perahu. Dan di antara deretan batu-batu itu terdapat sejalur jalan berkelok-kelok menciptakan pemandangan tersendiri.

Disebut Watu Klosot karena obyek wisata tersebut berupa batu besar sekitar 10meter persegi dan di apit tebing yang gak begitu tinggi dan di hiasi pepohonan mempunyai keunikan seperti terpecah dan berbentuk aliran air walaupun air tidak selalu mengalir,ada kalanya air mengalir saat hujan atau banjir dari gunung semeru yang bisa di katakan indah juga terdapat sumber mata air yang di sebut air suci. biasanya sebagian warga atau pendatang  dari dalam kota berkunjung untuk ritual dsb nya dan ada juga yang mandi atau memanfaatkan air tersebut untuk membasuh sebagian tubuhnya untuk menyembuhkan penyakit kulit di sumber mata air tersebut,ceritanya sih begitu.

keindahan watu klosot tersebut tersebut adalah pemandangan lereng gunung semeru yang nampak begitu dekat dan lokasinya berada di tengah hutan yang sunyi di iringi suara burung berkicauan dan terkadang muncul binatang langka seperti harimau karena di sini termasuk cagar alam.



Berdiri di atas batu besar kemudian pandangan di arahkan nun jauh ke sana, ke Gunung Semeru yang menjulang tinggi dihempas angin pegunungan yang sejuk dan menggigit tulang akan menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan sepanjang hidup. Ada salah satu batu yang persis terletak dengan gagahnya di atas tebing. Ini menjadi sudut yang sangat dinikmati pengunjung, sudut ini biasa disebut sebagai relung meditasi. Orang-orang yang berkunjung ke sana biasanya menyempatkan diri untuk merenung sejenak, mencari kedamaian hati dengan duduk sambil mendekapkan tangan di depan dada.
Di bawah sana merupakan kawasan cagar alam yang luas membentang. Jika sedang beruntung kita akan melihat elang Jawa, burung yang sangat langka bersiul-siul di angkasa. Elang itu kadang mendekat dan hinggap di ranting-ranting pohon. Keberadaan burung yang dilindungi ini sudah semakin menyusut, sehingga perlu ada upaya intensif untuk melestarikannya. Lebih langka lagi adalah keberadaan harimau Jawa yang diduga masih ada sisa-sisanya dan berkeliaran di lereng-lereng Gunung Semeru. Penduduk setempat sering melihatnya melintasi jalan setapak sebelum menghilang ke dalam hutan.
hmmmm...... 

Senin, 11 Agustus 2014

Gemericik di GOA TETES Lumajang


Goa TETES Lumajang

Setelah dari Bromo, Akhirnya saya sekeluarga mencoba mengunjungi sebuah tempat wisata di Kabupaten Lumajang, yaitu Goa Tetes. 

Selain gunung dan pantai, ternyata Lumajang juga memiliki goa yang cukup unik. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan nama Goa Tetes, mungkin karena tetesan air dari atas goa ini yang tak pernah berhenti di beberapa area goa. Tetesan air dari atas goa ini lebih mirip air terjun karena saking banyaknya air yang menetes. Bahkan pengunjung banyak menyangka objek wisata ini adalah wisata air terjun daripada wisata goa.

Pintu Masuk dan Papan Petunjuk GOA Tetes

Goa Tetes berada di Desa Sidomulyo,Kecamatan Pronojiwo, sekitar 50 km arah selatan dari Kota Lumajang, sebelum perbatasan antara Malang - Lumajang. Meskipun letaknya jauh dari pusat kota Lumajang, pengunjung tidak akan terlalu jenuh, karena akan disuguhi pemandangan yang indah, di sepanjang perjalanan menuju Goa Tetes. Sesampai disana sobat akan melihat goa, yang mengalirkan air diantara batuan barisan bukit-bukit yang menghijau.

Goa Tetes ini dahulu merupakan tempat wisata yang cukup terkenal dan banyak didatangi oleh wisatawan, namun saat ini goa tetes ini sudah jarang didatangi wisatawan. 
Goa Tetes terletak di Kecamatan Pronojiwo, dekat perbatasan  Kabupaten Lumajang dengan Kabupaten Malang. Jika anda sudah memasuki gerbang Kabupaten Lumajang dari arah Malang Selatan, maka siap-siap untuk lihat ke kanan, karena petunjuk goa tetes ini tidak terlalu terlihat, hanya tanda kecil di depan rumah warga.

Jika menggunakan mobil, kendaraan dapat diparkir di halaman rumah warga. Jika menggunakan sepeda motor maka dapat diparkir di dekat pintu masuk menuju goa tetes. Karena menggunakan mobil, maka saya harus berjalan kaki untuk mencapai pintu masuk menuju goa tetes. Harga tiket cukup murah yaitu 2000 perorang. Dari pintu masuk, saya harus menuruni jalan  terjal yang cukup panjang dan melelahkan. Jalan tersebut juga termasuk berbahaya karena hanya dilindungi oleh tanaman dan langsung ke jurang. Di tengah perjalanan kita sudah bisa melihat goa tetes dari kejauhan.



Jika kita lihat dari jauh goa tetes ini merupakan goa dengan tetesan air yang deras menyerupai air terjun. Dari Jauh terlihat sangat indah. Terlebih goa ini dikelilingi oleh jurang dengan pemandangan yang menakjubkan. Namun perjalanan masih cukup panjang. Setelah berjalan cukup jauh yaitu sekitar 30 menit akhirnya sampailah di kaki air terjun. Sungguh luar biasa melihat keindahan goa tetes ini dari dekat.



Goa Tetes memiliki beberapa mulut goa yang saling terhubung. Namun untuk mencapai salah satu mulut goa tersebut, kita harus mendaki bebatuan yang dialiri "air terjun" yang licin dan berbahaya. Untuk mendaki air terjun tersebut diperlukan kehati-hatian, visi untuk mencari pijakan dan keahlian memanjat bebatuan yang licin. Cukup berbahaya karena jika terpeleset maka bisa terbentur ke bebatuan atau yang paling parah adalah jatuh ke jurang.




Setelah mendaki cukup tinggi akhirnya sampailah disalah satu mulut goa. Di Mulut Goa dapat dilihat keindahan stalaktit dan stalakmit yang terbentuk oleh aliran air. Tapi karena hari sudah menjelang malam, dan keterbatasan peralatan maka saya tidak masuk ke Goa. Untuk masuk ke goa dibutuhkan senter karena kondisi goa yang sangat gelap. Berdasarkan pengalaman orang yang telah masuk goa, kita akan mendapatkan view yang bagus jika mampu menelusuri goa. Di dalam goa kita akan masuk ke dalam air setinggi 1,5 meter dan melewati celah-celah goa yang sangat sempit. Celah goa tersebut kira-kira hanya selebar 60 cm. Untuk orang yang berbadan besar pasti kesulitan menerobos goa.

Keindahan dan keunikan dari goa tetes ini akan membuat sobat betah untuk berbasah-basahan menikmati suasana goa tetes yang menakjubkan. Mendaki "Air terjun" yang menantang akan menjadi pengalaman menyenangkan yang tidak akan terlupakan. Goa Tetes ini wajib dijadikan tujuan wisata anda jika ke Jawa Timur.


Hmmmmm....Penasaran.............

Menembus Pasir BROMO di TNBTS


Gn. Bromo - Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Gunung Bromo. hmmm....Rasanya tak ada yang tidak kenal lagi dengan yang namanya Gunung Bromo, bahkan tempat ini menjadi salah satu tujuan favorit turis asing setelah Bali dan Lombok. Sudah banyak masyarakat yang membahas atau menceritakan tentang keindahan Bromo.
Disini saya tidak akan bercerita banyak tentang Bromo, hanya akan berbagi sedikit tips bagi teman-teman yang pertama kalinya menuju Gunung Bromo. Langsung saja…
Yang penting

Bawa jaket tebal, beserta aksesoris penghangat lainya seperti kaos kaki, tangan dan pelindung kepala. dan jangan lupa Masker. dan Yang namanya Gunung pasti udaranya dingin.

Usahakan jangan ketika Peak Season, pada musim ini honmestay dan penginapan menaikan harganya serta banyak yang penuh kalau tidak booking jauh-jaun hari.
Ajak teman sebanyak mungkin, makin banyak makin murah. Ada beberapa biaya yang bisa dibagi seperti sewa Jeep dan Penginapan.

Menuju Bromo
Untuk menuju Gunung Bromo sebenarnya ada beberapa alternative, seperti dari Malang via pasar tumpang, lewat lumajang via b29 atau via senduro ranu pane dan dari Probolinggo, namun yang lebih umum bagi yang menggunakan angkutan umum adalah lewat Probolinggo via Cemoro Lawang.
Naik bus dari Surabaya atau kota Lainya bisa turun di terminal Kota Probolinggo kemudian dilanjutkan dengan naik Elf menuju Cemoro Lawang.
Usahakan jangan terlalu sore datang di Probolinggo, karena Elfnya hanya berangkat kouta ketika penumpangnya  terpehuni, kecuali rombongan bisa langsung disewa itu angkot.
Pemandangan menuju Cemoro Lawang sangat Indah, jadi sayang untuk dilewatkan dan siapkan camera anda.
Bisa juga dengan menggunakan Motor, sebelum sampai di kota Probolinggo ada pertigaan di sebelah kiri. Ada saja petunjuk jalannya menuju Bromo, kalau masih kurang yakin bisa bertanya dengan penduduk sekitar.
Menginap dimana?
Sebenarnya begitu memasuki Desa Ngadisari sudah banyak warga yang menawarkan Homestay, namun lebih baik baik kita menginap di Desa Cemoro Lawang karena akan lebih menghemat waktu ketika berangkat untuk melihat sunrise.
Ada banyak pilihan Hotel, Penginapan ataupun Homestay yang tersedia disini. Bagi yang datang dengan rombongan lebih baik menyewa rumah sehinggabisa share biayanya.
Yang belum pernah atau belum punya kenalan homestay bisa minta bantuan dengan calo-calo yang berkeliaran disepanjang jalan, biasanya mereka mengambil keuntungan sekitar Rp. 50.000, namun tak ada salahnya kita berbagi agar mereka juga bisa menikmati dari Pariwisata ditempatnya. 
Bagi yang kurang tahan dingin bisa memilih kamar yang ada air panasnya, atau memilih untuk tidak mandi selama disini karena saking dingin airnya.
Bagi yang membawa tenda kayaknya Penajakan adalah spot yang pas, namun semakin pagi akan semakin banyak orang yang akan melihat sunrise.
Berkeliling di Bromo


Menyewa jeep adalah cara yang paling umum dilakukan untuk menjangkau beberapa spot wisata yang ada di Gunung Bromo, untuk lebih murahnya silahkan datang langsung ke Paguyuban Jeep Bromo di dekat pintu masuk TNBTS.

Biasanya ada beberapa pilihan rute yang ditawarakan, makin banyak maka makin mahal sewanya seperti :

  • Cuma ke Kawah Bromo
  • Sunrise Penanjakan dan Kawah Bromo
  • Sunrise Penanjakan, Kawah Bromo dan Pasir Berbisik
  • Sunrise Penanjakan, Kawah Bromo, Pasir Berbisik dan Bukit Teletabis
  • Yang paling jauh spot di atas ditambah dengan Air Tejun Coban Pelangi.

Kawah Gn. Bromo
Selain Jeep mareka juga banyak yang menawarkan ojek.
Bagi yang bawa motor sendiri sebaiknya tidak usah menyewa dua yang diatas, karena walau cuma motor metic  sudah bisa turun kok ke padang pasir asal ridernya sudah berpengalaman .
Yang terakhir bisa dengan kuda (Kalau Tega).

Tidak Mau Repot?

Bagi yang tidak mau repot untuk mengurus segala macam detail rencana perjalanan saya sarankan untuk mengikuti paket trip yang ada. Dan juga bagi yang sendiri atau berdua juga lebih baik bergabung dengan rombongan lain untuk menghemat biaya sewa jeep.

Bagi anda yang tidak suka keramaian bisa memilih rute yang tidak biasa.
Pagi langsung ke Penanjakan (Bisa ke Penanjakan 1 atau 2), yang ini harus sama karena mataharinya terbit juga dalam waktu yang sama, nah setelah ini biasanya wisatawan lain langsung menuju kawah bromo sehingga keramaian akan berpindah ke kawah Bromo, jadi anda bisa mengambil rute lain setelah Penanjakan langsung ke Bukit Teletabis, baru ke Pasir berbisik dan waktu yang sepi untuk pergi ke kawah Bromo adalah di Sore hari. Namun jangan terlalu sore kalau tidak ingin kemalaman di gunung usahakan berangkat sekitar pukul 3 sore.
Namun bagi yang Cuma punya waktu sedikit atau Cuma semalam di Bromo lebih baik mengikuti rute mainstream Bromo, yaitu Penanjakan, Kawah Bromo, Pasir berbisik dan Bukit Teletabis.
Hhhhmmmmm.... Yuk agendakan perjalanan....
sumber : http://www.backpackerborneo.com/2013/01/tips-backpacking-ke-gunung-bromo.html

Minggu, 10 Agustus 2014

Pendakian Gn. GEDE 2.958 mdpl - th. 2010


Puncak Gede

Kamis, pukul 10.00 WIB saya dan 3 orang rekan saya Yudith, Indra dan Didit bersiap-siap melakukan persiapan untuk pendakian besok (hari Jum’at) yang fokus kami adalah Gunung Gede yang mempunyai ketinggian 2958 mdpl lebih pendek dari saudaranya yaitu Gunung Pangrango yang mempunyai ketinggian 3019 mdpl.

Persiapan yang kami lakukan adalah menyiapkan peralatan yang akan digunakan. seperti, tenda, Carrier, sleping bag, senter, alat memasak, dan alat kebutuhan lainnya. Hal ini diperlukan karena tidak semua dari kami yang memiliki peralatan-peralatan seperti itu. Seperti Tenda misalnya, yang jauh-jauh hari sudah kami pesan untuk dipinjam dari salah seorang teman kami, walaupun kondisi tenda yang pas-pas’an boleh dibilang (tanpa pelindung luar) dan hanya mampu menampung 4 orang saja (itupun terlalu sempit).
Tetapi kami bersyukur dan berterima kasih karena sudah dipinjamkan sebuah tenda kepada kami.

Selain peralatan seperti diatas, keperluan logistik makanan dan obat-obatan pun harus dipersiapkan.

Jum’at pukul 17.30 WIB kami berkumpul dirumah indra yang pas bersebelahan dengan rumah didit, untuk melakukan pemeriksaan perlengkapan yang akan kami bawa untuk pendakian nanti dan dari sinilah kami melakukan awal perjalanan menuju Cipanas (Cibodas) yang masuk dalam wilayah teritorial Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat.

Perjalanan menuju Cipanas (Cibodas) dari tempat kami memakan waktu kurang lebih 3 jam perjalanan menggunakan jasa Bis jurusan Tasikmalaya Via Puncak (Bogor) dan turun dipertigaan Cibodas. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan jasa angkutan pedesaan jurusan Cibodas.

Cibodas merupakan Base Camp pendakian yang berada di ketinggian 1450 mdpl dan suhu daerah ini berkisar antara 08 derajat C sampai dengan 25 derajat C. Selain menjadi Base Camp pendakian, Cibodas juga merupakan tempat Pariwisata yang sangat menarik.

Perlu diketahui pula bagi yang ingin melakukan pendakian Gunung Gede dan Gunung Pangrango, bahwa sebelum hari pendakian, pendaki harus melakukan reservasi atau pemesanan, 3 hari sebelum melakukan pendakian. Selain itu juga pendaki juga harus menyiapkan kelengkapan data untuk perijinan seperti menyerahkan foto copy KTP atau identitas diri lainnya serta mentaati peraturan yang diberikan oleh petugas Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Pelayanan informasi dapat diperoleh di Visitor Center Cibodas.

Suara adzan sudah menggema, sebelum memulai pendakian kami melakukan shalat Jum’at terlebih dahulu di Masjid yang berada di kebun Raya Cibodas karena hari pendakian kami jatuh pada hari Jum’at.
Setelah melakukan shalat Jum’at sekitar pukul 13.00 WIB kami pun memulai pendakian. Dari sini jarak sampai ke puncak Gunung Gede berjarak kurang lebih sekitar 10 KM.

Sampai di Base Camp awal, kami pun melakukan registrasi ulang dengan menyerahkan surat ijin pendakian yang sudah kami buat 3 hari yang lalu di Visitor Center Cibodas.

Setelah melakukan registrasi ulang kami pun melanjutkan pendakian menuju telaga Biru yang berada pada ketinggian 1575 mdpl. Rute jalur masih agak landai. Selama perjalanan kami mengisinya dengan bercakap-cakap dan bersendau gurau. Dan sering kami temui pendaki yang turun gunung serta wisatawan yang datang untuk menikmati indahnya air terjun cibeureum. Selama 40 menit dengan jarak tempuh 1,3 km kami melewati pertigaan Cibeureum. Setelah melewati pertigaan cibeureum pendakian dilanjutkan menuju air panas 2150 mdpl. Jalur menuju air panas sudah mulai menanjak. Waktu tempuh menuju air panas memakan waktu sekitar 1,5  jam perjalanan. Air panas, selain dapat menghangatkan tubuh, sumber air panas ini mengandung zat belerang yang cukup tinggi, maka jangan meminum air ini.

Setelah melewati air panas pendakian dilanjutkan menuju kandang batu 2220 mdpl. Ciri khas dari tempat ini adalah banyak terdapat batu yang merupakan bekas letusan dari gunung gede. Jarak pendakian dari air panas menuju kandang batu berjarak 50 menit perjalanan.

Selepas kandang batu pendakian dilanjutkan menuju kandang badak yang berada pada ketinggian 2393 mdpl. Disinilah kami menginap semalam, mencari lahan yang kosong untuk mendirikan tenda.

Di sini pula persediaan air terakhir untuk pendakian menuju puncak, karena selama menuju puncak kita tidak akan menemui persediaan air lagi.

Kami berempat bahu-membahu mendirikan tenda pinjaman yang dibilang ala kadarnya. Setelah tenda berdiri Yudith, indra, didit dan saya pun bergegas untuk masuk. Kami pun mengeluarkan isi carrier yang kami bawa dari rumah tadi, serta mengeluarkan makanan untuk sarapan.. Tampak terlihat wajah lelah dari mereka bertiga karena perjalanan yang melelahkan tadi. Indra langsung merebahkan tubuhnya di atas matras sedangkan yudith, didit dan saya sibuk menyiapkan makan malam. Memang perut mulai terasa bernyanyi sehabis perjalanan tadi.

Makanan yang kami buat memang tidak sehebat dengan makanan di warung-warung, kami hanya memasak mie instan (makanan pokok pendaki) dicampur dengan kornet dan disantap hangat-hangat. Suasana dan Kebersamaan lah yang membuat masakan/makanan itu mengalahkan masakan jepang, prancis, amerika dan negara lain didunia.

Setelah selesai sarapan kami pun bercakap-cakap dan bersendau gurau tentang perjalanan tadi., Sambil menghirup hangatnya teh dan kopi panas menikmati indahnya malam dan dinginnya hawa malam.
Asyik mengobrol cuaca pun mulai berubah. Hujan rintik-rintik mulai turun. Kami mulai mengkhawatirkan tenda kami yang tidak dilengkapi lapisan pelindung. Kami pun bergegas membuat pelapis seadanya dengan melapiskan plastik plasitik bekas yang sudah kami siapkan sebelumnya.

Hujan semakin deras, sebentar berhenti, sebentar hujan. Tenda kami pun sedikit demi sedikit mulai kerembesan air, walaupun tidak terlalu parah tetapi cukup menggangu, karena kapasitas tenda hanya untuk 4 orang ditambah carriel yang kami bawa masuk. Bisa dibayangkan kan ………. !!!

Untung saja tak lama kemudian hujan pun mulai reda sehingga kami pun bisa bernafas lega. Lalu kami pun membereskan peralatan yang sempat berantakan yang kami lindungi agar tidak terkena air. Setelah beres dan rapi semua kami pun bergegas tidur untuk mempersiapkan diri kami melakukan summit attack keesokan pagi. Selain yudith, Saya juga termasuk yang tidak dapat tidur nyenyak. Selain lahan tenda yang sempit di tambah masih basahnya bagian dalam tenda juga dengkuran (ngorok) hebat sang biduan didit. Mungkin dia sangat kelelahan, sehingga bernyanyi dalam tidur seperti itu sehingga pelosok dunia pun mendengarnya. He……he….he…… ( sekalian buat rekaman, siapa tau jadi artis ngorok terkenal ).

Waktu menunjukan pukul 07.00 pagi, didit dan indra pun sudah terbangun dari mimpi basahnya tadi malam. ( gemana gak basah, kehujanan….!). hanya saya yang masih ingin tidur lagi karena ngantuk berat gak bisa tidur, lumayan nambah 1 jam . 

3 koki amatir pun mulai beraksi menyiapkan menu andalan yaitu mie instan pake kornet + saus. Serta teh  dan kopi panas. Setelah selesai memasak, aku pun terbangun dan mulai bergabung bersama mereka bertiga. Yang aku lakukan adalah membiarkan pikiranku normal sehabis tidur, mencuci muka, minum segelas teh hangat dan bergabung menyantap makanan yang sudah disediakan (sory gak ikut masak !)
setelah sarapan kami menjemur peralatan dan pakaian kami yang masih basah. Setelah agak kering kami mulai packing peralatan kami.

Setelah packing selesai kira-kira Pukul 10.00 WIB kami meneruskan pendakian menuju puncak (summit attack) ke Gunung Gede. Perlu diperhatikan cadangan air yang kita bawa, karena nanti selama pendakian ke puncak kita tidak akan lagi menemukan sumber air.

 Beberapa meter setelah kandang badak (tempat kami bermalam) terdapat persimpangan jalur. Kalau yang kekanan menuju puncak gunung pangrango, sedangkan yang kekiri menuju puncak gunung gede. Karena tujuan kami adalah Puncak gunung Gede 2958 mdpl, maka kami memilih jalur yang kekiri.
Sekitar 40 menit perjalanan kita akan menjumpai sebuah tebing/tanjakan berbatu.  Yang lebih dikenal dengan Tanjakan setan. Tetapi kita tidak perlu khawatir karena pada tebing/tanjakan itu sudah dilengkapi pengaman tali untuk mempermudahkan kita dalam mendakinya.

Setelah melewati tanjakan setan, kita akan melewati medan yang berpasir dan berbatu. Jalur yang akan kita lewati ini mulai menanjak.serta kita akan menjumpai kawah ratu yang berada pada ketinggian 2740 mdpl.

Akhirnnya perjuangan panjang menuju puncak pun selesai. Kami telah sampai pada puncak Gede pada ketinggian 2958 mdpl. Puncak yang indah. Kami pun berempat sepakat untuk menginap semalam di atas puncak. Dan meneruskan perjalanan pulang esok harinya.

Siang pun sudah berganti malam. Kami menikmati keindahan malam di puncak gunung ini  dan merenungkan bagaimana bentuk ciptaan Allah yang amat indah dan amat luas  ini. Maka kami bersyukur telah diberikan berbagai kenikmatan untuk  mencapai puncak ini.

Pagi hari sekitar pukul 09.00, kami melanjutkan perjalanan pulang. Jalur yang kami pakai untuk perjalanan pulang berbeda dengan jalur pendakian kami. Dalam perjalanan turun ini kami akan  memakai jalur Gunung putri.

Dalam perjalanan turun selama 15 menit kita akan bertemu sebuah lembah yang luas yang diapit oleh gunung Gede 2958 mdpl dan gunung Gemuruh 2927 mdpl. Lembah ini lebih dikenal dengan nama alun-alun surya kencana. Vegetasi yang mendominasi didaerah ini adalah Adelweiss dan rerumputan. Di lembah ini lah, yang pada setiap tanggal 17 agustus sering diadakan upacara bendera.

Alun-alun Surya Kencana

 Dalam perjalanan turun untuk menuju pos gunung putri, kita lalu memilih jalur yang kekiri dari alun-alun surya kencana. Jalur yang kami lalui dalam perjalanan turun sangat jelas sehingga tidak membingungkan.

Perjalanan turun tidak lah terlalu sulit dibanding dengan perjalanan waktu naik. Sehingga kami pun cepat sampai di pos gunung putri. Dipos ini lah kami melakukan pendataan ulang menginformasikan kepada petugas penjaga bahwa kami telah turun gunung.  hal ini perlu di lakukan agar tidak membingungkan petugas.

Setelah melakukan pendataan ulang kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Perjalanan dilanjutkan dengan naik Angkutan pedesaan jurusan gunung putri - cipanas. Dan turun di pasar cipanas. Lalu dilanjutkan dengan menggunakan jasa bis jurusan bogor. Lalu diteruskan dengan menggunakan jasa kereta hingga Depok.

PESAN KAMI :

Jangan lah merusak lingkungan dengan cara membuang sampah sembarangan, merusak tanaman atau habitat lain dan mengotori sumber-sumber air.
Marilah kita jaga dan lestarikan keberadaannya.
Karena suatu saat, kita akan Rindu untuk mendakinya kembali.


Terima Kasih Kepada :

Allah SWT,
Orang Tua,
Teman-teman yang sudi meminjamkan peralatan pendakiannya.

Dan semua pihak yang telah membantu kelancaran pendakian ke gunung Gede (2958 mdpl)


Akses Perjalanan Ke Lokasi Gunung Gede (2958 mdpl)

1. Jalur Cibodas.
          Merupakan jalur resmi yang paling sering dilalui para pendaki dan jalur ini dapat
          dibilang merupakan jalur yang paling aman.
          Perjalanan menuju cibodas dapat ditempuh dari Jakarta (terminal kp.rambutan) \
          menggunakan jasa bis jurusan Bandung via puncak, atau dari terminal Depok           
          menggunakan jasa bis jurusan Tasikmalaya atau bandung via puncak lalu minta
          turun di pertigaan cibodas. lalu kemudian setelah turun di pertigaan cibodas,
          perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan angkutan pedesaan jurusan kebon raya
          cibodas.

2. Jalur Gunung putri
          Jalur ini merupakan jalur paling singkat/paling pendek untuk sampai ke puncak Gede.
          tetapi medan pada jalur ini agak sedikit sulit dibandingkan dengan jalur cibodas.
          Perjalanan menuju Gunung putri dapat ditempuh dari jakarta menggunakan jasa bis
          jurusan bandung via puncak lalu minta turun di pasar cipanas.
          Setelah turun dipasar cipanas, perjalanan dilanjutkan dengan naik angkutan pedesaan
          jurusan Cipanas - Gunung Putri dengan lama perjalanan sekitar 30 menit.

3. jalur Salabintana (Sukabumi)
          Jalur ini lebih berat dibandingkan jalur cibodas dan gunung putri, karena lintasannya
          lebih terjal.
          Perjalanan menuju sukabumi dapat ditempuh dengan naik jasa angkutan bis dari
          Jakarta selama kurang-lebih 2 jam perjalanan. Setiba disukabumi, perjalanan
          dilanjutkan dengan menggunakan angkutan pedesaan menuju perkampungan
          Salabintana yang merupakan pos pendakian awal.